Tiga Hal Yang Harus Kita Tahu Sebelum Memilih Dalam Pemilu

Sabtu, 16 Maret 2019 saya berkesempatan mengikuti acara seru di Balai Kota Semarang. Kegiatan itu bertajuk “Ngopi Telu”, ngobrol pintar seputar pemilu. Acara bertempat di Kantor Diskominfo lantai tiga dan dimulai pukul 10.00 WIB. Agenda acara hari itu adalah ada diskusi soal pemilu sampai pengenalan dan presentasi beberapa komunitas yang ada di kota Semarang. Penyampaian materi soal seluk-beluk pemilu disampaikan oleh Heri Abriyanto, S.E. sebagai komisioner KPU. Pak Heri kebetulan seorang komisioner KPU Kota Semarang dan berada di divisi teknis penyelenggaraan. Salah satu hal yang cukup menarik disampaikan adalah soal pelayanan pemilih pengguna A.5 pada hari pemungutan suara besok Rabu, tanggal 17 April 2019. Beberapa hal penting yang harus kita tahu sebelum memilih dalam pemilu.

Pertama, harus tahu calonnya

Beliau menekankan kepada para pemilih untuk harus mengetahui calon yang ada. Jangan sampai masyarakat apatis apalagi sampai golput.Tidak ada alasan ya untuk golput karena tidak mengetahui siapa saja calonnya. Bicara soal ini saya teringat salah satu videonya mba Najwa Shihab di Narasi.tv. Kalau member Blackpink saja kita bisa tahu sampai detailnya, kenapa untuk caleg saja kita tidak tahu? Ayolah, kita bisa mencarin informasinya juga banyak di media sosial kok.

Kedua, katakan tidak untuk money politics

Satu hal lagi yang beliau wanti-wanti adalah masalah money politik. Menurutnya, bagi sebagian besar orang mungkin menganggap enak karena di beri uang kok di tolak. Sebagian masyarakat pun merasa kalau uang sejumlah Rp 50.000,00 itu masih dianggap cukup besar. Beliau kemudian mengatakan, uang yang sejumlah itu untuk berapa tahun? Kalau di hitung-hitung, anggap saja satu tahun Rp 10.000,00, satu tahun ada 12 bulan dan 365 hari. Coba kita bagi uang yang sebesar Rp 10.000,0 tadi kita bagi 365, ya hasilnya Cuma Rp 27,40. Untuk membeli permen yang seratusan pun tidak dapat.

Saat ini jumlah pemilih yang sudah terdaftar hanya di Kota Semarang saja sejumlah 1.136.074 orang. Banyangkan jika caleg memberikan uang Rp 50.000,00 untuk mendapatkan katakanlah 10.000 orang pemilih. Hasilnya, dia sudah mengeluarkan uang sebesar Rp 500.000.000,00 hanya untuk mendapatkan pemilih, belum di tambah dengan pembuatan APK, Komisi untuk tim pemenangan dan sebagainya. Hal yang ditakutkan adalah nantinya orang-orang yang seperti itu hanya menjadi caleg untuk mengurusi balik modalnya dulu. Sehingga rencana-rencana pembangunan yang berorientasi untuk masyarakat, untuk kemslahatan bersama menjadi penuh permainan. So, masih mau lagi untuk menerima serangan subuh?

Ketiga, bisa kok pindah memilih

Dalam kesempatan itu pula disampaikan mengenai surat pindah memilih (A.5). Untuk mendapatkan surat ini, pemilih yang bersangkutan harus pulang di daerah terdaftar TPS, kemudian minta surat pindah memilih. Lalu memilih ke TPS yang di tuju. Kalau rumahnya jauh ada dua pilihan. Pertama, datang langsung ke PPS yang di tuju untuk meminta surat pindah memilih dengan menunjukkan KTP. Kedua langsung datang ke KPU Kota Semarang untuk mengurus surat pindah memilih. Untuk informasi, pengurusan surat pindah memilih ini akan dilayani maksimal sampai H-30 (hanya sampai 17 Maret 2019).

Ketentuan dasar yang ada adalah kapasitas di masing-masing TPS sejumlah 300 pemilih. Kalau surat suara habis, orang yang membawa surat pindah memilih akan diarahkan ke TPS lain. Jangan segan-segan juga untuk meminta penggantian surat suara jika surat suara yang kita dapat sudah ada coretannya atau rusak. KPU mengalokasikan 2% surat suara tambahan untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Kemudian, sebelum memilih pastikan kalau surat suara sudah ditandatangani oleh ketua TPS. Hal ini karena ketika dalam proses penghitungan ditemukan surat suara tidak ditandatangani oleh ketua TPS maka surat sura dinyatakan tidak sah.

Acara hari itu selesai dan ditutup dengan diskusi seru dengan debat menggunakan bahasa Inggris. Kemudian ada pula presentasi dari komunitas. Beberapa komunitas yang hadir saat itu adalah tentunya EEC sebagai penyelenggara, lalu ada YOT Semarang, komunitas ASA Edu, kelas inspirasi, dan KOPHI Jateng.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of